Jumat, 25 Mei 2012

PERMASALAHAN REMAJA TENTANG SEKS




 





BAB I
PENDAHULUAN

Menurut J.P. Chaplin, 1979, Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematian perilaku. Sedangkan menurut Ross Vasta, dkk., 1992, Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangn individu dari mulai masa konsepsi sampai mati.
Kedua pendapat di atas menunjukkan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokukan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkat laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra – nata) sampai mati.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.















BAB II
ISI

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1.    Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2.    Ketidakstabilan emosi.
3.    Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4.    Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5.    Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6.    Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7.    Senang bereksperimentasi.
8.    Senang bereksplorasi.
9.    Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10.  Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

A.   Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, yang artinya pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung tetapi berjalan agak lambat. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan, namun sebagian remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuian diri pada pola perilaku baru dan harapan social yang baru. Misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan. Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja merasa bahagia, tetapi mereka menjadi sedih bilamana percintaan kurang lancar.
Menurut Gesell dkk, remaja 14 tahun sering kali mudah marah mudah dirangsang, dan emosi cenderung “meledak, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja 16 tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keprihatinan.
Bentuk – bentuk Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
1.    Pola Emosi pada Masa Remaja
2.    Kematangan Emosi

B.   Perubahan Sosial
Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaiakan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang  sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah, untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan paling sulit adalah penyesuian diri dengan meningkatkannya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku social pengelompokkan social baru nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan.
Perubahan sosial dipengaruhi oleh :
1.    Kuatnya pengaruh kelompok sebaya
2.    Perubahan dalam Perilaku Sosial
Berperilaku baik dalam berbagai situasi social. Bertambah dan berkurangnya prasangka dan deskriminasi masa remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Remaja, sebagai kelompok, cenderung lebih “pemilih-milih” dalam memilih rekan dan teman baik dibandingkan kita masih kanak-kanak.

3.    Pengelompokkan social baru
Pengelompokkan social yang sering terjadi selama masa remaja:
a.       Teman dekat
b.      Kelompok kecil
c.       Kelompok besar
d.      Kelompok yang teroganisasi
e.       Kelompok genk

4.    Nilai baru dalam memilih teman
a.       Kurangnya pengalaman terutama dengan lawan jenis, remaja memilih teman-teman yang kurang sesuai, tidak seperti yang diharapkan; pertengkaran sering terjadi dan persahabatan bubar
b.      Seperti hal nya dalam bidang-bidang kehidupan lainnya remaja cenderung tidak realistis dengan standar yang ia tetapkan untuk teman-teman nya.

C.   Perubahan Moral
      Mitchell meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan remaja:
1      Pandangan moral individu makin lama makin lebih abstrak dan kurang konkrit.
2      Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang di dominan.
3      Penilaian moral menjadi semakin meningkat, didorong remaja yang lebih berani menganalisis kode social dan pribadi daripada masa anak-anak dan berani mengambil masalah moral yang dihadapi.
4      Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5      Penilaian moral secara sikologis lebih mahal dalam berarti penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan social.
      Menurut Kohlberg, tahat perkembangan moral ketiga, moralitas pascakonvensional (postconventional morality) harus dicapai selama masa remaja. Tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip yang terdiri dari dua tahap:
1      Individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral apabila hal ini menguntungkan anggota kelompok keseluruhan.
2      Individu menyesuaikan diri dengan standar social dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor social.
Macam – macam perubahan moral:
1      Perubahan konsep moral
2      Pembentukkan kode moral
3      Peran suara hati dalam pengendalian perilaku

D.   Minat Seks dan Perilaku Seks
Pembentukan hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis dalam memainkan peran yang tepat dengan seksnya, kawula muda harus memperoleh konsep yang dimiliki ketika masih anak-anak. Dorongan untuk melakukan hal ini datang dari tekanan – tekanan sosial tapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang seks.
Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Hanya sedikit remaja yang berharap bahwa seluk-beluk tentang seks dapat dipelajari dari orang tuanya. Perumpuan sangat ingin tahu tentang keluarga berencana, “pil antihamil”, pengguguran dan kehamilan. Di pihak lain, laki – laki ingin mengetahui tentang penyakit kelamin, kenikmatan seks, hubungan seks, dan keluarga berencana. Minat utama mereka tertuju pada masalah hubungan seks, konteksnya dan akibatnya.
Perkembangan heteroseksualitas berhubungan dengan seks yang harus dikuasi adalah pembentukan hubungan baru dan yang lebih matang dengan lawan jenis. Perkembangan minat terhadap lawan jenis – heteroseksualitas – mengikuti pola tertentu. Namun, terdapat perbedaan usia dalam mencapai berbagai tahapdalam perkembangan.
Ada dua unsur yang berbeda dalam perkembangan heteroseksualitas:
1      Perkembangan pola perilaku yang melibatkan kedua jenis seks
2      Perkembangan sikap yang berhubungan dengan relasi antara kedua kelompok seks.
      Sikap sering diwarnai hal-hal yang tidak realities dan sangat romantis. Remaja perempuan tidak lagi memandang laki-laki seperti laki-laki melainkan sebagai “pahlawan”. Kecenderungan untuk meromantiskan perempuan sering diucapkan dengan jelas. Si lelaki akan menaruh gadis kecintaannya pada tumpuan kakinya dan kata-katanya akan selalu memujanya.
      Pola heteroseksualitas yang baru ada dua cirri yang membedakan perilaku heteroseksual reamaja masa kini dari generasi sebelumnya, yaitu terobosan tahap – tahap dalam perilaku heteroseksual dan sikap yang jauh lebih lunak.
      Dijelaskan oleh Stinnett dan Taylor “ banyak pemuda mengerti gaya hidupnya dalam usaha memperoleh hubungan akrab yang tidak ditemukan dalam keluarga sendiri”.
      Ada banyak alasan untuk mengikuti pola perilaku seksual yang baru. Di antaranya adalah keyakinan bahwa hal ini ”harus dilakukan” karena semua orang melakukannya; bahwa laki-laki dan perempuan yang masih perawan pada saat duduk di kelas terakhir sekolah menengah atas berarti ”berbeda”; bahwa mereka harus tunduk pada tekanan kelompok sebaya bila ingin mempertahankan status mereka di dalam kelompok; dan bahwa perilaku ini merupakan ungkapan dari hubungan yang bermakna yang memenuhi kebutuhan semua remaja untuk mengadakan hubungan yang intim dengan orang lain, terlebih bila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi dalam hubungan keluarga.
      Remaja masa kini menganggap bahwa ungkapan-ungkapan cinta, apa pun bentuknya, adalah baik sejauh kedua pasangan remaja saling tertarik. Di pihak lain, kalau hubungan seks dilakukan hanya karena orang-orang lain melakukannya, tanpa disertai cinta atau hanya cara bagi seorang gadis untuk memperoleh teman kencan dalam peristiwa-peristiwa sosial atau demi kesenangan, maka remaja menganggap perbuatan ini salah. Juga dianggap keliru bila laki-laki memaksa perempuan melakukan hubungan seks di luar kehendaknya atau bila perempuan menggunakan hubungan seks sebagai cara untuk memaksa laki-laki menikahinya.

E.    Peran Seks yang Diakui Selama Masa Remaja
      Tugas perkembangan kedua yang harus dikuasai remaja dalam masalah seks adalah belajar memerankan peran seks yang diakui. Tugas ini lebih sulit bagi banyak remaja, terutama bagi perempuan dibandingkan dengan penguasaan tugas perkembangan dalam masalah seks yang pertama, yaitu belajar bergaul dengan lawan jenis.
      Menurut Deutsch dan Gilbert, banyak remaja, sebagai akibat dari pendidikan seperti ini dan adanya tekanan dari teman-teman sebaya, terlebih dari lawan jenis, ”ditarik ke arah yang berlawanan, yakni situasi mematangkan konflik”.
      Rosen dan Aneshensel menamakan sikap pura-pura feminin ini sebagai gejala bunglon (chameleon syndrome), yaitu kemauan untuk memainkan peran demi untuk menikmati dukungan sosial bagi kedua kelompok seks tersebut dan untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola lingkungan yang diakui, tanpa mempertimbangkan perasaan-perasaan yang sebenarnya terhadap peran wanita tradisional. Menurut mereka, sindroma ini berasal dari keluarga suatu hasil dari proses di mana orang tua memerintahkan anak gadisnya untuk berperilaku dan bersikap sesuai dengan seksnya.
      Efek penggolongan peran-seks pada remaja mempengaruhi perilaku dan sikap anak laki-laki maupun perempuan meskipun dalam cara yang berbeda. Dari sekian banyak akibat, ada 4 yang bersifat sangat umum sehingga hampir bersifat universal dalam kebudayaan Amerika saat ini, yaitu:
1.    Perasaan superioritas maskulin
2.    Prasangka seks (seks bias)
3.    Prestasi rendab
4.    Takut berhasil

F.    Hubungan Keluarga
      Masalah yang lebih penting adalah apa yang disebut ”kesenjangan generasi” antara remaja dengan orang tua mereka. Kesenjangan ini sebagian disebabkan karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar perilaku yang biasanya terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, dan sebagian disebabkan karena kenyataan bahwa kawula muda sekarang memiliki banyak kesempatan untuk pendidikan, sosial dan budaya yang lebih besar daripada masa remaja orang tua mereka. Jadi sesungguhnya ini merupakan ” kesenjangan budaya”, sepenuhnya bukan karena perbedaan dalam usia kronologis.
      Meskipun ada banyak sumber pertentangan antara remaja dan anggota-anggota keluarga, tetapi ada sebab-sebab tertentu yang hampir bersifat universal dalam keluarga-keluarga Amerika saat ini. Sebab-sebab ini lebih banyak terjadi pada masa awal masa remaja dibandingkan dengan akhir masa remaja dengan anak laki-laki. Sumber-sumber yang paling serius, yaitu:
1.    Standar perilaku
2.    Metode disiplin
3.    Hubungan dengan saudara kandung
4.    Merasa menjadi korban
5.    Sikap yang sangat kritis
6.    Besarnya keluarga
7.    Perilaku yang kurang matang
8.    Memberontak terhadap sanak keluarga
9.    ”Masalah palang pintu”
Hubungan keluarga yang membaik dengan anggota keluarga lain lambat laun berkurang dan hubungan menjadi lebih nenyenangkan dan lebih penuh kasih sayang. Hal ini berlaku dalam hubungan dengan semua anggota keluarga. Hubungan remaja – orang tua yang membaik bermula ketika orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan anak kecil lagi.
Perbedaan seks dalam hubungan keluarga, pada umumnya hunbungan remaja dengan anggota keluarga yang wanita kurang baik dibandingkan dengan hubungan dengan anggota keluarga yang pria. Meskipun benar bahwa ibu cenderung lebih lunak terhadap anak laki-lakinya, namun kini merupakan salah satu perkecualian. Karena anak perempuan lebih dibatasai oleh ibu dibandingkan dengan ayah, maka pertentangan antara ibu – anak gadis lebih kuat, setidaknya sampai bagian akhir masa remaja.

G.   Perubahan Kepribadian
Pada awal masa remaja, anak laki-laki dan perempuan sudah menyadari sifat-sifat yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat teman-teman mereka. Remaja yang lebih tua juga menyadari apa yang membentuk ”kepribadian yang menyenangkan”. Ia mengetahui sifat-sifat apa yang dikagumi oleh teman-teman sejenis maupun teman-teman lawan jenis.
      Ini merupakan tugas sulit dan yang sering kali tidak mingkin. Pertama, pola keribadian yang sudah dibentuk selama masa kanak-kanak sudah mulai stabil dan cenderung menetap sepanjang hidupnya dengan hanya sedikit perbaikan. Memang ada perubahan-perubahan dengan bertambahnya usia tetapi perubahan ini lebih bersifat kuantitatif, daripada kualitatif.
      Kedua, banyak diantara kondisi yang membentuk pola kepribadian di luar pengendalian para remaja karena kondisi itu merupakan hasil dari lingkungan di mana remaja itu hidup dan akan terus mempengaruhi konsep diri, yaitu inti dari pola kepribadian sepanjang linkungan tetap stabil.
      Banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola kepribadian melalui pengaruhnya pada konsep diri. Beberapa diantaranya sama dengan  kondisi pada masa kanak-kanak, tetapi banyak yang merupakan akibat dari perubahan-perubahan fisik psikologis yang terjadi selama masa remaja.

H.   Bahaya Masa Remaja
      Bahaya fisik tidak banyak lagi dan tidak sepenting bahaya psikologis meskipun masih tetap ada. Bahaya fisik penting terutama karena reaksi-reaksi psikologisnya. Kegemukan misalnya, tidak banyak mempengaruhi perilaku remaja dan penyesuaian sosial, tetapi hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan sikap yang kurang baik dari teman-teman sebaya.
Jenis-jenis bahaya fisik:
1.    Kematian akibat penyakit, kematian yang disebabkan kecelakaan
2.    Bunuh diri atau percobaan bunuh diri
3.    Cacat fisik, seperti: gigi yang bengkok, penglihatan yang kurang baik atau kurangnya pendengaran, jarang menghambat remaja untuk melakukan apa yang dilakukan teman-teman sebaya
4.    Akibat pertumbuhan otot selama awal masa remaja, kekuatan meningkat
5.    Kecanggungan dan kekakuan
6.    Bentuk tubuh yang tidak sesuai dengan seksnya
7.    Kesederhanaan
Selain jenis-jenis bahaya fisik, ada juga jenis-jenis bahaya psikologis, yaitu:
1.    Perilaku sosial
2.    Perilaku seksual
3.    Perilaku moral
4.    Hubungan keluarga
Adapun akibat dari ketidakmatangan, yaitu remaja yang mengetahui bahwa sikap dan perilakunya dianggap ”tidak matang” oleh kelompok sosial dan yang menyadari bahwa orang lain memandangnya tidak mampu menjalankan peran dewasa yang baik, akan mengembangkan kompleks rendah diri. Meskipun mereka tidak meletakkan standar-standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri, akan terdapat kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa pandangannya tentang dirinya sendiri -  seperti tercemin dalam dugaan mengenai sedikit ketidakpuasan, tetapi kalau kesenjangan ini lebar, maka ia cenderung menganggap dirinya sendiri tidak berharga dan merenung atau bahkan mencoba bunuh diri.

           
Referensi : Bahan Ajar Kuliah Fisikologi Stikes Widya Husada Semarang
                   Program Studi DIII Teknik Rontgen Tahun Angkatan 2009 – 2012
                   By Khaerun hidayat 09.1.029

Selasa, 15 Mei 2012

kedokanbunder kesehatan



cINTA kESEHATAN  itu PerLu
MenJAdiKAn KesElamTAn bAdAn Kita Itu PErlu
MakA Dari itu Radiologi Yang MEnjadi Penunjang Untuk
mendiagNosa Para Ahli Radiologi


May Name Khaerun hidayat
I live In Jln Kedokan Bunder City KAbupaten Indramayu

Rabu, 09 Mei 2012

Klasifikasi Alat Ukur Proteksi Radiasi

Klasifikasi Alat Ukur Proteksi Radiasi

Alat ukur proteksi radiasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari detektor dan peralatan penunjang, seperti sistem pengukur radiasi lainnya. Alat ukur ini dapat memberikan informasi dosis radiasi seperti paparan dalam roentgen, dosis serap dalam rad atau gray, dan dosis ekivalen dalam rem atau sievert.
Alat proteksi radiasi ini dibedakan menjadi tiga yaitu
·          dosimeter personal
·          surveimeter
·          monitor kontaminasi
Dosimeter personal berfungsi untuk “mencatat” dosis radiasi yang telah mengenai seorang pekerja radiasi secara akumulasi. Oleh karena itu, setiap orang yang bekerja di suatu daerah radiasi harus selalu mengenakan dosimeter personal. Surveimeter digunakan untuk melakukan pengukuran tingkat radiasi di suatu lokasi secara langsung sedang monitor kontaminasi digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi pada pekerja, alat maupun lingkungan.

Surveimeter

Surveimeter harus dapat memberikan informasi laju dosis radiasi pada suatu area secara langsung. Jadi, seorang pekerja radiasi dapat memperkirakan jumlah radiasi yang akan diterimanya bila akan bekerja di suatu lokasi selama waktu tertentu. Dengan informasi yang ditunjukkan surveimeter ini, setiap pekerja dapat menjaga diri agar tidak terkena paparan radiasi yang melebihi batas ambang yang diizinkan.
Sebagaimana fungsinya, suatu survaimeter harus bersifat portable meskipun tidak perlu sekecil sebuah dosimeter personal. Konstruksi survaimeter terdiri atas detektor dan peralatan penunjang seperti terlihat gambar berikut. Cara pengukuran yang diterapkan adalah cara arus (current mode) sehingga nilai yang ditampilkan merupakan nilai intensitas radiasi. Secara elektronik, nilai intensitas tersebut dikonversikan menjadi skala dosis, misalnya dengan satuan roentgent/jam.
 
Semua jenis detektor yang dapat memberikan hasil secara langsung, seperti detektor isian gas, sintilasi dan semikonduktor, dapat digunakan. Dari segi praktis dan ekonomis, detektor isian gas Geiger Muller yang paling banyak digunakan. Detektor sintilasi juga banyak digunakan, khususnya NaI(Tl) untuk radiasi gamma, karena mempunyai efisiensi yang tinggi.

  Jenis Surveimeter

Terdapat beberapa jenis survaimeter yang digunakan untuk jenis radiasi yang sesuai sebagai berikut.
·          Survaimeter Gamma
·          Survaimeter Beta dan Gamma
·          Survaimeter Alpha
·          Survaimeter neutron
·          Survaimeter Multi-Guna
Survaimeter gamma merupakan survaimeter yang sering digunakan dan pada prinsipnya dapat digunakan untuk mengukur radiasi sinar X. Detektor yang sering digunakan adalah detektor isian gas proporsional, GM atau detektor sintilasi NaI(Tl).
Berbeda dengan survaimeter gamma biasa, survaimeter beta dan gamma mempunyai detektor yang terletak di luar badan survaimeter dan mempunyai “jendela” yang dapat dibuka atau ditutup. Bila digunakan untuk mengukur radiasi beta, maka jendelanya harus dibuka. Sebaliknya untuk radiasi gamma, jendelanya ditutup.Detektor yang sering digunakan adalah detektor isian gas proporsional atau GM.
Survaimeter alpha mempunyai detektor yang terletak di luar badan survaimeter dan terdapat satu permukaan detektor yang terbuat dari lapisan film yang sangat tipis, biasanya terbuat dari berrilium, sehingga mudah sobek bila tersentuh atau tergores benda tajam. Detektor yang digunakan adalah detektor isian gas proporsional atau detektor sintilasi ZnS(Ag).
Survaimeter neutron biasanya menggunakan detektor proporsional yang diisi dengan gas BF3 atau gas Helium. Karena yang dapat berinteraksi dengan unsur Boron atau Helium adalah neutron termal saja, maka survaimeter neutron biasanya dilengkapi dengan moderator yang terbuat dari parafin atau polietilen yang berfungsi untuk menurunkan energi neutron cepat menjadi neutron termal. Moderator ini hanya digunakan bila radiasi neutron yang akan diukur adalah neutron cepat.
Pada saat ini sudah mulai dipasarkan jenis survaimeter yang serbaguna (multipurpose) karena selain dapat mengukur intensitas radiasi secara langsung, sebagaimana survaimeter biasa, juga dapat mengukur intensitas radiasi selama selang waktu tertentu, dapat diatur, seperti sistem pencacah dan bahkan bisa menghasilkan spektrum distribusi energi radiasi seperti sistem spektroskopi.

  Prosedur Pemakaian Surveimeter

Tiga langkah penting yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan survaimeteradalah:
·          memeriksa batere
·          memeriksa sertifikat kalibrasi
·          mempelajari pengoperasian dan pembacaan
Periksa batere: Hal ini dilakukan untuk menguji kondisi catu daya tegangan tinggi detektor. Bila tegangan tinggi detektor tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, maka detektor tidak peka atau tidak sensitif terhadap radiasi yang mengenainya, akibatnya survaimeter akan menunjukkan nilai yang salah.
Periksa sertifikat kalibrasi: Pemeriksaan sertifikat kalibrasi harus memperhatikan faktor kalibrasi alat dan memeriksa tanggal validasi sertifikat. Faktor kalibrasi merupakan suatu parameter yang membandingkan nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur dan nilai dosis sebenarnya.
Dsebenarnya = Dterukur x Faktor Kalibrasi
Bila sertifikat kalibrasinya sudah melewati batas waktunya, maka survaimeter tersebut harus dikalibrasi ulang sebelum dapat digunakan lagi.
Pelajari pengoperasian dan pembacaan: Langkah ini perlu dilakukan, khususnya bila akan menggunakan survaimeter “baru”. Setiap survaimeter mempunyai tombol-tombol dan saklar-saklar yang berbeda-beda, biasanya terdapat beberapa faktor pengalian misalnya x1; x10; x100 dan sebagainya. Sedang display-nya juga berbeda-beda, ada yang berskala rontgent / jam ; rad / jam ; Sievert /jam atau mSievert / jam atau bahkan masih dalam cpm (counts per minutes).


Dosimeter Personal

Alat ini digunakan untuk mengukur dosis radiasi secara akumulasi. Jadi, dosis radiasi yang mengenai dosimeter personal akan dijumlahkan dengan dosis yang telah mengenai sebelumnya. Dosimeter personal ini harus ringan dan berukuran kecil karena alat ini harus selalu dikenakan oleh setiap pekerja radiasi yang sedang bekerja di medan radiasi.
Terdapat tiga macam dosimeter personal yang banyak digunakan saat ini yaitu:
·          dosimeter saku (pen / pocket dosemeter)
·          film badge
·          Thermoluminisence Dosemeter (TLD).

 

  Dosimeter Saku

Dosimeter ini sebenarnya merupakan detektor kamar ionisasi sehingga prinsip kerjanya sama dengan detektor isian gas akan tetapi tidak menghasilkan tanggapan secara langsung karena muatan yang terkumpul pada proses ionisasi akan “disimpan” seperti halnya suatu kapasitor.
Konstruksi dosimeter saku berupa tabung silinder berisi gas sebagaimana pada Gambar di atas. Dinding silinder akan berfungsi sebagai katoda, bermuatan negatif, sedangkan sumbu logam dengan jarum 'quartz' di bagian bawahnya bermuatan positif. Mula-mula, sebelum digunakan, dosimeter ini diberi muatan menggunakan charger yaitu suatu catu daya dengan tegangan tertentu. Jarum quartz pada sumbu detektor akan menyimpang karena perbedaan potensial. Dengan mengatur nilai tegangan pada waktu melakukan 'charging' maka penyimpangan jarum tersebut dapat diatur agar menunjukkan angka nol. Dalam pemakaian di tempat kerja, bila ada radiasi yang memasuki detektor maka radiasi tersebut akan mengionisasi gas, sehingga akan terbentuk ion-ion positif dan negatif. Ion-ion ini akan bergerak menuju anoda atau katoda sehingga mengurangi perbedaan potensial antara jarum dan dinding detektor. Perubahan perbedaan potensial ini menyebabkan penyimpangan jarum berkurang.
Jumlah ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor sebanding dengan intensitas radiasi yang memasukinya, sehingga penyimpangan jarum juga sebanding dengan intensitas radiasi yang telah memasuki detektor. Skala dari penyimpangan jarum tersebut kemudian dikonversikan menjadi nilai dosis.
Keuntungan dosimeter saku ini adalah dapat dibaca secara langsung dan tidak membutuhkan peralatan tambahan untuk pembacaannya. Kelemahannya, dosimeter ini tidak dapat menyimpan informasi dosis yang telah mengenainya dalam waktu yang lama (sifat akumulasi kurang baik).
Pada saat ini, sudah dibuat dan dipasarkan dosimeter saku yang diintegrasikan dengan komponen elektronika maju (advanced components) sehingga skala pembacaannya tidak lagi dengan melihat pergeseran jarum (secara mekanik) melainkan dengan melihat display digital yang dapat langsung menampilkan angka hasil pengukurannya.

 

  Film Badge

Film badge terdiri atas dua bagian yaitu detektor film dan holder. Detektor film dapat “menyimpan” dosis radiasi yang telah mengenainya secara akumulasi selama film belum diproses. Semakin banyak dosis radiasi yang telah mengenainya –atau telah mengenai orang yang memakainya– maka tingkat kehitaman film setelah diproses akan semakin pekat.


Holder film selain berfungsi sebagai tempat film ketika digunakan juga berfungsi sebagai penyaring (filter) energi radiasi. Dengan adanya beberapa jenis filter pada holder, maka dosimeter film badge ini dapat membedakan jenis dan energi radiasi yang telah mengenainya.
Di pasar terdapat beberapa merk film maupun holder, tetapi BATAN selalu menggunakan film dengan merk Kodak buatan USA dan holder merk Chiyoda buatan Jepang seperti pada Gambar IV.3. Hal ini dilakukan agar mempunyai standar atau kalibrasi pembacaan yang tetap.
Dosimeter film badge ini mempunyai sifat akumulasi yang lebih baik daripada dosimeter saku. Keuntungan lainnya film badge dapat membedakan jenis radiasi yang mengenainya dan mempunyai rentang pengukuran energi yang lebih besar daripada dosimeter saku. Kelemahannya, untuk mengetahui dosis yang telah mengenainya harus diproses secara khusus dan membutuhkan peralatan tambahan untuk membaca tingkat kehitaman film, yaitu densitometer.

  Dosimeter Termoluminisensi (TLD)

Dosimeter ini sangat menyerupai dosimeter film badge, hanya detektor yang digunakan ini adalah kristal anorganik thermoluminisensi, misalnya bahan LiF. Proses yang terjadi pada bahan ini bila dikenai radiasi adalah proses termoluminisensi. Senyawa lain yang sering digunakan untuk TLD adalah CaSO4.
Dosimeter ini digunakan selama jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan, baru kemudian diproses untuk mengetahui jumlah dosis radiasi yang telah diterimanya. Pemrosesan dilakukan dengan memanaskan kristal TLD sampai temperatur tertentu, kemudian mendeteksi percikan-percikan cahaya yang dipancarkannya. Alat yang digunakan untuk memproses dosimeter ini adalah TLD reader.
Keunggulan TLD dibandingkan dengan film badge adalah terletak pada ketelitiannya. Selain itu, ukuran kristal TLD relatif lebih kecil dan setelah diproses kristal TLD tersebut dapat digunakan lagi.

Monitor Kontaminasi

Kontaminasi merupakan suatu masalah yang sangat berbahaya, apalagi kalau sampai terjadi di dalam tubuh. Kontaminasi sangat mudah terjadi kalau bekerja dengan sumber radiasi terbuka, misalnya berbentuk cair, serbuk, atau gas. Adapun yang terkontaminasi biasanya adalah peralatan, meja kerja, lantai, tangan, sepatu.
Jika intensitas radiasi yang dipancarkan oleh sesuatu yang telah terkontaminasi sangat rendah, maka alat ukur ini harus mempunyai efisiensi pencacahan yang sangat tinggi. Detektor yang digunakan untuk monitor kontaminasi ini harus mempunyai “jendela” (window) yang luas, karena kontaminasi tidak selalu terjadi pada satu daerah tertentu, melainkan tersebar pada permukaan yang luas. Tampilan dari monitor kontaminasi ini biasanya menunjukkan kuantitas radiasi (laju cacah) seperti cacah per menit atau cacah per detik (cpd). Nilai ini harus dikonversikan menjadi satuan aktivitas radiasi, Currie atau Becquerel, dengan hubungan sebagai berikut.
 
A adalah aktivitas radiasi, R adalah laju cacah dan h adalah efisiensi alat pengukur. Monitor kontaminasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu monitor kontaminasi permukaan, monitor kontaminasi perorangan dan monitor kontaminasi udara (airborne). Monitor kontaminasi permukaan (surface monitor) digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi segala permukaan, misalnya meja kerja, lantai, alat ukur ataupun baju kerja.
Monitor kontaminasi perorangan digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi pada bagian-bagian tubuh dari pekerja radiasi. Bagian tubuh yang paling sering terkontaminasi adalah tangan dan kaki, sehingga terdapat monitor kontaminasi khusus untuk tangan dan kaki yaitu hand and foot contamination monitor. Suatu instalasi yang modern biasanya dilengkapi dengan monitor kontaminasi seluruh tubuh (whole body monitor). Setiap pekerja yang akan meninggalkan tempat kerja harus diperiksa terlebih dahulu dengan monitor kontaminasi.
Monitor kontaminasi udara digunakan untuk mengukur tingkat radioaktivitas udara di sekeliling instalasi nuklir yang mempunyai potensi untuk melepaskan zat radioaktif ke udara.
Sebagaimana survaimeter, detektor yang digunakan di sini dapat berupa detektor isian gas, sintilasi ataupun semikonduktor. Detektor yang paling banyak digunakan adalah detektor isian gas proporsional untuk mendeteksi kontaminasi pemancar alpha atau beta dan detektor sintilasi NaI(Tl) untuk kontaminasi pemancar gamma. Khusus untuk monitor kontaminasi udara biasanya dilengkapi dengan suatu penyaring (filter) dan pompa penghisap udara untuk “menangkap” partikulat zat radioaktif yang bercampur dengan molekul-molekul udara.






Kalibrasi Alat Ukur

Sudah merupakan suatu ketentuan bahwa setiap alat ukur proteksi radiasi harus di kalibrasi secara periodik oleh instansi yang berwenang. Hal ini dilakukan untuk menguji ketepatan nilai yang ditampilkan alat terhadap nilai sebenarnya. Perbedaan nilai antara yang ditampilkan dan yang sebenarnya harus dikoreksi dengan suatu parameter yang disebut sebagai faktor kalibrasi ( Fk ). Dalam melakukan pengukuran, nilai yang ditampilkan alat harus dikalikan dengan faktor kalibrasinya. Secara ideal, faktor kalibrasi ini bernilai satu, akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak alat ukur yang mempunyai faktor kalibrasi sama dengan satu. Nilai yang masih dapat 'diterima' berkisar antara 0,8 sampai dengan 1,2. Faktor Kalibrasi dapat dihitung dengan persamaan berikut.
Dimana Ds  adalah nilai dosis sebenarnya, sedangkan Du adalah nilai yang ditampilkan alat ukur. Terdapat dua metode untuk melakukan kalibrasi yaitu:
·          menggunakan sumber radiasi standar
·          menggunakan alat ukur standar
Cara pertama, alat ukur diletakkan pada jarak tertentu, misalnya 1 m, dari sumber standar yang telah diketahui jenis nuklida maupun aktivitasnya. Dosis paparan yang mengenai survaimeter (Ds) ditentukan berdasarkan perhitungan. Cara kedua, alat ukur yang akan dikalibrasi dan alat ukur standar diletakkan pada jarak yang sama dari suatu sumber, sehingga dosis radiasi yang mengenai dua alat ukur tersebut sama. Nilai dosis radiasi yang ditampilkan oleh alat ukur standar dianggap sebagai dosis sebenarnya ( Ds ).
Tanggapan atau respon suatu alat ukur terhadap dosis radiasi ternyata berbeda untuk energi radiasi yang berbeda. Setiap alat ukur seharusnya dikalibrasi dengan sumber yang mempunyai tingkat energi yang 'sama' dengan tingkat energi radiasi yang digunakan di lapangan. Perbedaan respon tersebut sangat “significant” pada rentang energi di bawah 200 keV seperti terlihat pada Gambar IV.5 berikut. Pada rentang energi di atas 500 keV, perbedaan responnya sudah tidak terlalu besar.


Penggunaan Alat Ukur Radiasi

Berdasarkan kegunaannya, alat ukur radiasi dapat dibedakan menjadi
·          alat ukur proteksi radiasi
·          sistem pencacah dan spektroskopi
Alat ukur proteksi radiasi digunakan untuk kegiatan keselamatan kerja dengan radiasi, nilai yang ditampilkan dalam satuan dosis radiasi seperti Rontgent, rem, atau Sievert. Sedangkan sistem pencacah dan spektroskopi digunakan untuk melakukan pengukuran intensitas radiasi dan energi radiasi secara akurat. Sistem pencacah lebih banyak digunakan di fasilitas laboratorium.

  Alat Ukur Proteksi Radiasi

Sebagai suatu ketentuan yang diatur dalam undang-undang bahwa setiap pengguna zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya harus memiliki alat ukur proteksi radiasi. Alat ukur proteksi radiasi dibedakan menjadi tiga
·          dosimeter perorangan
·          surveimeter
·          monitor kontaminasi.
Dosimeter perorangan digunakan untuk “mencatat” dosis radiasi yang telah mengenainya secara akumulasi dalam selang waktu tertentu, misalnya selama satu bulan. Contoh dosimeter perorangan adalah film badge, TLD dan dosimeter saku. Setiap pekerja radiasi diwajibkan menggunakan dosimeter perorangan.
Surveimeter digunakan untuk mengukur laju dosis (intensitas) radiasi secara langsung. Surveimeter mutlak diperlukan dalam setiap pekerjaan yang menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya agar setiap pekerja mengetahui atau dapat memperkirakan dosis radiasi yang akan diterimanya setelah melaksanakan kegiatan tersebut. Surveimeter harus bersifat portabel, mudah dibawa dalam kegiatan survei radiasi di segala medan.
Monitor kontaminasi digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi zat radioaktif, baik di udara, di tempat kerja, maupun yang melekat di tangan, kaki atau badan pekerja. Peralatan ini mutlak diperlukan bagi fasilitas yang menggunakan zat radioaktif terbuka, misalnya untuk keperluan teknik perunut menggunakan zat radioaktif.

  Sistem Pencacah dan Spektroskopi

Sistem pencacah dan spektroskopi digunakan untuk aplikasi yang memanfaatkan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya. Sebagai contoh aplikasi thickness gauging untuk mengukur tebal lapisan, level gauging untuk menentukan batas permukaan fluida, XRF untuk menentukan jenis dan kadar material, dan sebagainya.
Sistem pencacah digunakan untuk mengukur kuantitas (jumlah) radiasi yang mengenai detektor. Salah satu contoh penggunaan sistem pencacah adalah pada aplikasi pengukuran tebal kertas, sebagaimana gambar berikut.
Metode di atas dapat digunakan untuk pengukuran lapisan bahan yang lain, misalnya plastik atau bahkan lapisan logam. Tentu saja untuk setiap jenis bahan diperlukan pengaturan jenis sumber radiasi dan detektor yang berbeda.
 Sistem spektroskopi mempunyai prinsip yang sangat berbeda dengan pencacah karena alat ini mengukur energi dari setiap radiasi yang mengenai detektor. Hasil pengukuran alat ini berupa spektrum distribusi energi radiasi sebagaimana contoh pada gambar berikut.
Terlihat dari contoh spektrum di atas bahwa terdapat beberapa tingkat energi yang menghasilkan cacahan relatif lebih tinggi dari pada daerah lain. Posisi atau tingkat energu tersebut disebut sebagai puncak energi (energy peak).
Spektrum energi radiasi yang ditandai oleh puncak-puncak energinya merupakan karakteristik dari setiap unsur atau zat radioaktif. Sehingga jenis unsur atau isotop yang terkandung di dalam suatu bahan dapat ditentukan bila spektrum energinya dapat diukur.
Salah satu contoh aplikasi yang harus menggunakan sistem spektroskopi adalah penentuan jenis dan kadar unsur yang menerapkan metode XRF (X ray fluresence) dan metode NAA (neutron activation analysis).




 









Mahasiswa Stikes Widya Husada DIII Teknik Rontgen



 Referensi : Bahan ajar Dosen Stikes Widya Husada Semarang 
                    Prodi DIII Teknik Rontgen