Jumat, 25 Mei 2012

PERMASALAHAN REMAJA TENTANG SEKS




 





BAB I
PENDAHULUAN

Menurut J.P. Chaplin, 1979, Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematian perilaku. Sedangkan menurut Ross Vasta, dkk., 1992, Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangn individu dari mulai masa konsepsi sampai mati.
Kedua pendapat di atas menunjukkan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokukan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkat laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra – nata) sampai mati.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.















BAB II
ISI

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1.    Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2.    Ketidakstabilan emosi.
3.    Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4.    Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5.    Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6.    Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7.    Senang bereksperimentasi.
8.    Senang bereksplorasi.
9.    Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10.  Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

A.   Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, yang artinya pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung tetapi berjalan agak lambat. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan, namun sebagian remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuian diri pada pola perilaku baru dan harapan social yang baru. Misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan. Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja merasa bahagia, tetapi mereka menjadi sedih bilamana percintaan kurang lancar.
Menurut Gesell dkk, remaja 14 tahun sering kali mudah marah mudah dirangsang, dan emosi cenderung “meledak, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja 16 tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keprihatinan.
Bentuk – bentuk Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
1.    Pola Emosi pada Masa Remaja
2.    Kematangan Emosi

B.   Perubahan Sosial
Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaiakan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang  sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah, untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan paling sulit adalah penyesuian diri dengan meningkatkannya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku social pengelompokkan social baru nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan.
Perubahan sosial dipengaruhi oleh :
1.    Kuatnya pengaruh kelompok sebaya
2.    Perubahan dalam Perilaku Sosial
Berperilaku baik dalam berbagai situasi social. Bertambah dan berkurangnya prasangka dan deskriminasi masa remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Remaja, sebagai kelompok, cenderung lebih “pemilih-milih” dalam memilih rekan dan teman baik dibandingkan kita masih kanak-kanak.

3.    Pengelompokkan social baru
Pengelompokkan social yang sering terjadi selama masa remaja:
a.       Teman dekat
b.      Kelompok kecil
c.       Kelompok besar
d.      Kelompok yang teroganisasi
e.       Kelompok genk

4.    Nilai baru dalam memilih teman
a.       Kurangnya pengalaman terutama dengan lawan jenis, remaja memilih teman-teman yang kurang sesuai, tidak seperti yang diharapkan; pertengkaran sering terjadi dan persahabatan bubar
b.      Seperti hal nya dalam bidang-bidang kehidupan lainnya remaja cenderung tidak realistis dengan standar yang ia tetapkan untuk teman-teman nya.

C.   Perubahan Moral
      Mitchell meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan remaja:
1      Pandangan moral individu makin lama makin lebih abstrak dan kurang konkrit.
2      Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang di dominan.
3      Penilaian moral menjadi semakin meningkat, didorong remaja yang lebih berani menganalisis kode social dan pribadi daripada masa anak-anak dan berani mengambil masalah moral yang dihadapi.
4      Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5      Penilaian moral secara sikologis lebih mahal dalam berarti penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan social.
      Menurut Kohlberg, tahat perkembangan moral ketiga, moralitas pascakonvensional (postconventional morality) harus dicapai selama masa remaja. Tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip yang terdiri dari dua tahap:
1      Individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral apabila hal ini menguntungkan anggota kelompok keseluruhan.
2      Individu menyesuaikan diri dengan standar social dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor social.
Macam – macam perubahan moral:
1      Perubahan konsep moral
2      Pembentukkan kode moral
3      Peran suara hati dalam pengendalian perilaku

D.   Minat Seks dan Perilaku Seks
Pembentukan hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis dalam memainkan peran yang tepat dengan seksnya, kawula muda harus memperoleh konsep yang dimiliki ketika masih anak-anak. Dorongan untuk melakukan hal ini datang dari tekanan – tekanan sosial tapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang seks.
Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Hanya sedikit remaja yang berharap bahwa seluk-beluk tentang seks dapat dipelajari dari orang tuanya. Perumpuan sangat ingin tahu tentang keluarga berencana, “pil antihamil”, pengguguran dan kehamilan. Di pihak lain, laki – laki ingin mengetahui tentang penyakit kelamin, kenikmatan seks, hubungan seks, dan keluarga berencana. Minat utama mereka tertuju pada masalah hubungan seks, konteksnya dan akibatnya.
Perkembangan heteroseksualitas berhubungan dengan seks yang harus dikuasi adalah pembentukan hubungan baru dan yang lebih matang dengan lawan jenis. Perkembangan minat terhadap lawan jenis – heteroseksualitas – mengikuti pola tertentu. Namun, terdapat perbedaan usia dalam mencapai berbagai tahapdalam perkembangan.
Ada dua unsur yang berbeda dalam perkembangan heteroseksualitas:
1      Perkembangan pola perilaku yang melibatkan kedua jenis seks
2      Perkembangan sikap yang berhubungan dengan relasi antara kedua kelompok seks.
      Sikap sering diwarnai hal-hal yang tidak realities dan sangat romantis. Remaja perempuan tidak lagi memandang laki-laki seperti laki-laki melainkan sebagai “pahlawan”. Kecenderungan untuk meromantiskan perempuan sering diucapkan dengan jelas. Si lelaki akan menaruh gadis kecintaannya pada tumpuan kakinya dan kata-katanya akan selalu memujanya.
      Pola heteroseksualitas yang baru ada dua cirri yang membedakan perilaku heteroseksual reamaja masa kini dari generasi sebelumnya, yaitu terobosan tahap – tahap dalam perilaku heteroseksual dan sikap yang jauh lebih lunak.
      Dijelaskan oleh Stinnett dan Taylor “ banyak pemuda mengerti gaya hidupnya dalam usaha memperoleh hubungan akrab yang tidak ditemukan dalam keluarga sendiri”.
      Ada banyak alasan untuk mengikuti pola perilaku seksual yang baru. Di antaranya adalah keyakinan bahwa hal ini ”harus dilakukan” karena semua orang melakukannya; bahwa laki-laki dan perempuan yang masih perawan pada saat duduk di kelas terakhir sekolah menengah atas berarti ”berbeda”; bahwa mereka harus tunduk pada tekanan kelompok sebaya bila ingin mempertahankan status mereka di dalam kelompok; dan bahwa perilaku ini merupakan ungkapan dari hubungan yang bermakna yang memenuhi kebutuhan semua remaja untuk mengadakan hubungan yang intim dengan orang lain, terlebih bila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi dalam hubungan keluarga.
      Remaja masa kini menganggap bahwa ungkapan-ungkapan cinta, apa pun bentuknya, adalah baik sejauh kedua pasangan remaja saling tertarik. Di pihak lain, kalau hubungan seks dilakukan hanya karena orang-orang lain melakukannya, tanpa disertai cinta atau hanya cara bagi seorang gadis untuk memperoleh teman kencan dalam peristiwa-peristiwa sosial atau demi kesenangan, maka remaja menganggap perbuatan ini salah. Juga dianggap keliru bila laki-laki memaksa perempuan melakukan hubungan seks di luar kehendaknya atau bila perempuan menggunakan hubungan seks sebagai cara untuk memaksa laki-laki menikahinya.

E.    Peran Seks yang Diakui Selama Masa Remaja
      Tugas perkembangan kedua yang harus dikuasai remaja dalam masalah seks adalah belajar memerankan peran seks yang diakui. Tugas ini lebih sulit bagi banyak remaja, terutama bagi perempuan dibandingkan dengan penguasaan tugas perkembangan dalam masalah seks yang pertama, yaitu belajar bergaul dengan lawan jenis.
      Menurut Deutsch dan Gilbert, banyak remaja, sebagai akibat dari pendidikan seperti ini dan adanya tekanan dari teman-teman sebaya, terlebih dari lawan jenis, ”ditarik ke arah yang berlawanan, yakni situasi mematangkan konflik”.
      Rosen dan Aneshensel menamakan sikap pura-pura feminin ini sebagai gejala bunglon (chameleon syndrome), yaitu kemauan untuk memainkan peran demi untuk menikmati dukungan sosial bagi kedua kelompok seks tersebut dan untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola lingkungan yang diakui, tanpa mempertimbangkan perasaan-perasaan yang sebenarnya terhadap peran wanita tradisional. Menurut mereka, sindroma ini berasal dari keluarga suatu hasil dari proses di mana orang tua memerintahkan anak gadisnya untuk berperilaku dan bersikap sesuai dengan seksnya.
      Efek penggolongan peran-seks pada remaja mempengaruhi perilaku dan sikap anak laki-laki maupun perempuan meskipun dalam cara yang berbeda. Dari sekian banyak akibat, ada 4 yang bersifat sangat umum sehingga hampir bersifat universal dalam kebudayaan Amerika saat ini, yaitu:
1.    Perasaan superioritas maskulin
2.    Prasangka seks (seks bias)
3.    Prestasi rendab
4.    Takut berhasil

F.    Hubungan Keluarga
      Masalah yang lebih penting adalah apa yang disebut ”kesenjangan generasi” antara remaja dengan orang tua mereka. Kesenjangan ini sebagian disebabkan karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar perilaku yang biasanya terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, dan sebagian disebabkan karena kenyataan bahwa kawula muda sekarang memiliki banyak kesempatan untuk pendidikan, sosial dan budaya yang lebih besar daripada masa remaja orang tua mereka. Jadi sesungguhnya ini merupakan ” kesenjangan budaya”, sepenuhnya bukan karena perbedaan dalam usia kronologis.
      Meskipun ada banyak sumber pertentangan antara remaja dan anggota-anggota keluarga, tetapi ada sebab-sebab tertentu yang hampir bersifat universal dalam keluarga-keluarga Amerika saat ini. Sebab-sebab ini lebih banyak terjadi pada masa awal masa remaja dibandingkan dengan akhir masa remaja dengan anak laki-laki. Sumber-sumber yang paling serius, yaitu:
1.    Standar perilaku
2.    Metode disiplin
3.    Hubungan dengan saudara kandung
4.    Merasa menjadi korban
5.    Sikap yang sangat kritis
6.    Besarnya keluarga
7.    Perilaku yang kurang matang
8.    Memberontak terhadap sanak keluarga
9.    ”Masalah palang pintu”
Hubungan keluarga yang membaik dengan anggota keluarga lain lambat laun berkurang dan hubungan menjadi lebih nenyenangkan dan lebih penuh kasih sayang. Hal ini berlaku dalam hubungan dengan semua anggota keluarga. Hubungan remaja – orang tua yang membaik bermula ketika orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan anak kecil lagi.
Perbedaan seks dalam hubungan keluarga, pada umumnya hunbungan remaja dengan anggota keluarga yang wanita kurang baik dibandingkan dengan hubungan dengan anggota keluarga yang pria. Meskipun benar bahwa ibu cenderung lebih lunak terhadap anak laki-lakinya, namun kini merupakan salah satu perkecualian. Karena anak perempuan lebih dibatasai oleh ibu dibandingkan dengan ayah, maka pertentangan antara ibu – anak gadis lebih kuat, setidaknya sampai bagian akhir masa remaja.

G.   Perubahan Kepribadian
Pada awal masa remaja, anak laki-laki dan perempuan sudah menyadari sifat-sifat yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat teman-teman mereka. Remaja yang lebih tua juga menyadari apa yang membentuk ”kepribadian yang menyenangkan”. Ia mengetahui sifat-sifat apa yang dikagumi oleh teman-teman sejenis maupun teman-teman lawan jenis.
      Ini merupakan tugas sulit dan yang sering kali tidak mingkin. Pertama, pola keribadian yang sudah dibentuk selama masa kanak-kanak sudah mulai stabil dan cenderung menetap sepanjang hidupnya dengan hanya sedikit perbaikan. Memang ada perubahan-perubahan dengan bertambahnya usia tetapi perubahan ini lebih bersifat kuantitatif, daripada kualitatif.
      Kedua, banyak diantara kondisi yang membentuk pola kepribadian di luar pengendalian para remaja karena kondisi itu merupakan hasil dari lingkungan di mana remaja itu hidup dan akan terus mempengaruhi konsep diri, yaitu inti dari pola kepribadian sepanjang linkungan tetap stabil.
      Banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola kepribadian melalui pengaruhnya pada konsep diri. Beberapa diantaranya sama dengan  kondisi pada masa kanak-kanak, tetapi banyak yang merupakan akibat dari perubahan-perubahan fisik psikologis yang terjadi selama masa remaja.

H.   Bahaya Masa Remaja
      Bahaya fisik tidak banyak lagi dan tidak sepenting bahaya psikologis meskipun masih tetap ada. Bahaya fisik penting terutama karena reaksi-reaksi psikologisnya. Kegemukan misalnya, tidak banyak mempengaruhi perilaku remaja dan penyesuaian sosial, tetapi hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan sikap yang kurang baik dari teman-teman sebaya.
Jenis-jenis bahaya fisik:
1.    Kematian akibat penyakit, kematian yang disebabkan kecelakaan
2.    Bunuh diri atau percobaan bunuh diri
3.    Cacat fisik, seperti: gigi yang bengkok, penglihatan yang kurang baik atau kurangnya pendengaran, jarang menghambat remaja untuk melakukan apa yang dilakukan teman-teman sebaya
4.    Akibat pertumbuhan otot selama awal masa remaja, kekuatan meningkat
5.    Kecanggungan dan kekakuan
6.    Bentuk tubuh yang tidak sesuai dengan seksnya
7.    Kesederhanaan
Selain jenis-jenis bahaya fisik, ada juga jenis-jenis bahaya psikologis, yaitu:
1.    Perilaku sosial
2.    Perilaku seksual
3.    Perilaku moral
4.    Hubungan keluarga
Adapun akibat dari ketidakmatangan, yaitu remaja yang mengetahui bahwa sikap dan perilakunya dianggap ”tidak matang” oleh kelompok sosial dan yang menyadari bahwa orang lain memandangnya tidak mampu menjalankan peran dewasa yang baik, akan mengembangkan kompleks rendah diri. Meskipun mereka tidak meletakkan standar-standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri, akan terdapat kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa pandangannya tentang dirinya sendiri -  seperti tercemin dalam dugaan mengenai sedikit ketidakpuasan, tetapi kalau kesenjangan ini lebar, maka ia cenderung menganggap dirinya sendiri tidak berharga dan merenung atau bahkan mencoba bunuh diri.

           
Referensi : Bahan Ajar Kuliah Fisikologi Stikes Widya Husada Semarang
                   Program Studi DIII Teknik Rontgen Tahun Angkatan 2009 – 2012
                   By Khaerun hidayat 09.1.029

Tidak ada komentar:

Posting Komentar