BAB I
PENDAHULUAN
Menurut
J.P. Chaplin, 1979, Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang
mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran
berikut kematian perilaku. Sedangkan menurut Ross Vasta, dkk., 1992, Psikologi
perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku
dan kemampuan sepanjang proses perkembangn individu dari mulai masa konsepsi
sampai mati.
Kedua
pendapat di atas menunjukkan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu
bidang psikologi yang memfokukan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan
tingkat laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra – nata) sampai
mati.
Remaja
adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh
pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu
Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja
merupakan masa badai dan tekanan (storm
and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
BAB II
ISI
Fase remaja
merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957)
mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang
dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai
dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang
mungkin dapat merupakan the best of time
and the worst of time.
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18
tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun.
Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang
12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat
bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat
bervariasi.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja
yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1.
Kecanggungan
dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4.
Adanya
sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab
pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup
memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
A. Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”,
yang artinya pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung
tetapi berjalan agak lambat. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan
tekanan, namun sebagian remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu
sebagai konsekuensi dari usaha penyesuian diri pada pola perilaku baru dan
harapan social yang baru. Misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan.
Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja merasa bahagia, tetapi mereka menjadi
sedih bilamana percintaan kurang lancar.
Menurut Gesell dkk, remaja 14 tahun sering kali mudah marah mudah
dirangsang, dan emosi cenderung “meledak, tidak berusaha mengendalikan
perasaannya. Sebaliknya, remaja 16 tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya
keprihatinan.
Bentuk – bentuk Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
1.
Pola Emosi pada Masa Remaja
2.
Kematangan Emosi
B. Perubahan Sosial
Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang
berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaiakan diri dengan
lawan jenis dalam hubungan yang
sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa
di luar lingkungan keluarga dan sekolah, untuk mencapai tujuan dari pola
sosialisasi dewasa remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang
terpenting dan paling sulit adalah penyesuian diri dengan meningkatkannya
pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku social pengelompokkan social
baru nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan.
Perubahan sosial
dipengaruhi oleh :
1.
Kuatnya pengaruh kelompok sebaya
2.
Perubahan dalam Perilaku Sosial
Berperilaku baik dalam berbagai situasi social. Bertambah dan berkurangnya
prasangka dan deskriminasi masa remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Remaja, sebagai kelompok, cenderung lebih “pemilih-milih” dalam memilih rekan
dan teman baik dibandingkan kita masih kanak-kanak.
3.
Pengelompokkan social baru
Pengelompokkan
social yang sering terjadi selama masa remaja:
a.
Teman dekat
b.
Kelompok kecil
c.
Kelompok besar
d.
Kelompok yang teroganisasi
e.
Kelompok genk
4.
Nilai baru dalam memilih teman
a.
Kurangnya pengalaman terutama dengan lawan jenis, remaja memilih
teman-teman yang kurang sesuai, tidak seperti yang diharapkan; pertengkaran
sering terjadi dan persahabatan bubar
b.
Seperti hal nya dalam bidang-bidang kehidupan lainnya remaja cenderung
tidak realistis dengan standar yang ia tetapkan untuk teman-teman nya.
C. Perubahan Moral
Mitchell meringkaskan lima perubahan dasar
dalam moral yang harus dilakukan remaja:
1 Pandangan
moral individu makin lama makin lebih abstrak dan kurang konkrit.
2
Keyakinan moral lebih terpusat
pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai
kekuatan moral yang di dominan.
3
Penilaian moral menjadi semakin meningkat, didorong remaja yang lebih berani
menganalisis kode social dan pribadi daripada masa anak-anak dan berani
mengambil masalah moral yang dihadapi.
4 Penilaian
moral menjadi kurang egosentris.
5 Penilaian
moral secara sikologis lebih mahal dalam berarti penilaian moral merupakan
bahan emosi dan menimbulkan ketegangan social.
Menurut Kohlberg, tahat perkembangan moral
ketiga, moralitas pascakonvensional (postconventional morality) harus dicapai
selama masa remaja. Tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip
yang terdiri dari dua tahap:
1 Individu
yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral apabila hal ini
menguntungkan anggota kelompok keseluruhan.
2 Individu
menyesuaikan diri dengan standar social dan ideal yang di internalisasi lebih
untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor social.
Macam – macam perubahan
moral:
1
Perubahan konsep moral
2
Pembentukkan kode moral
3
Peran suara hati dalam pengendalian perilaku
D.
Minat
Seks dan Perilaku Seks
Pembentukan
hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis dalam memainkan peran yang
tepat dengan seksnya, kawula muda harus memperoleh konsep yang dimiliki ketika
masih anak-anak. Dorongan untuk melakukan hal ini datang dari tekanan – tekanan
sosial tapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang
seks.
Karena
meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak
informasi mengenai seks. Hanya sedikit remaja yang berharap bahwa seluk-beluk
tentang seks dapat dipelajari dari orang tuanya. Perumpuan sangat ingin
tahu tentang keluarga berencana, “pil antihamil”, pengguguran dan kehamilan. Di
pihak lain, laki – laki ingin mengetahui tentang penyakit kelamin, kenikmatan
seks, hubungan seks, dan keluarga berencana. Minat utama mereka tertuju pada
masalah hubungan seks, konteksnya dan akibatnya.
Perkembangan heteroseksualitas berhubungan dengan seks
yang harus dikuasi adalah pembentukan hubungan baru dan yang lebih matang
dengan lawan jenis. Perkembangan minat terhadap lawan jenis – heteroseksualitas
– mengikuti pola tertentu. Namun, terdapat perbedaan usia dalam mencapai
berbagai tahapdalam perkembangan.
Ada dua unsur yang berbeda dalam perkembangan
heteroseksualitas:
1
Perkembangan pola perilaku yang melibatkan kedua
jenis seks
2
Perkembangan sikap yang berhubungan dengan relasi
antara kedua kelompok seks.
Sikap sering diwarnai hal-hal yang tidak
realities dan sangat romantis. Remaja perempuan tidak lagi memandang laki-laki
seperti laki-laki melainkan sebagai “pahlawan”. Kecenderungan untuk
meromantiskan perempuan sering diucapkan dengan jelas. Si lelaki akan menaruh
gadis kecintaannya pada tumpuan kakinya dan kata-katanya akan selalu memujanya.
Pola heteroseksualitas yang baru ada dua
cirri yang membedakan perilaku heteroseksual reamaja masa kini dari generasi
sebelumnya, yaitu terobosan tahap – tahap dalam perilaku heteroseksual dan
sikap yang jauh lebih lunak.
Dijelaskan oleh Stinnett dan Taylor “
banyak pemuda mengerti gaya hidupnya dalam usaha memperoleh hubungan akrab yang
tidak ditemukan dalam keluarga sendiri”.
Ada banyak alasan untuk mengikuti pola
perilaku seksual yang baru. Di antaranya adalah keyakinan bahwa hal ini ”harus
dilakukan” karena semua orang melakukannya; bahwa laki-laki dan perempuan yang
masih perawan pada saat duduk di kelas terakhir sekolah menengah atas berarti
”berbeda”; bahwa mereka harus tunduk pada tekanan kelompok sebaya bila ingin
mempertahankan status mereka di dalam kelompok; dan bahwa perilaku ini
merupakan ungkapan dari hubungan yang bermakna yang memenuhi kebutuhan semua
remaja untuk mengadakan hubungan yang intim dengan orang lain, terlebih bila
kebutuhan tersebut tidak dipenuhi dalam hubungan keluarga.
Remaja masa kini menganggap bahwa
ungkapan-ungkapan cinta, apa pun bentuknya, adalah baik sejauh kedua pasangan
remaja saling tertarik. Di pihak lain, kalau hubungan seks dilakukan hanya
karena orang-orang lain melakukannya, tanpa disertai cinta atau hanya cara bagi
seorang gadis untuk memperoleh teman kencan dalam peristiwa-peristiwa sosial
atau demi kesenangan, maka remaja menganggap perbuatan ini salah. Juga dianggap
keliru bila laki-laki memaksa perempuan melakukan hubungan seks di luar
kehendaknya atau bila perempuan menggunakan hubungan seks sebagai cara untuk
memaksa laki-laki menikahinya.
E.
Peran
Seks yang Diakui Selama Masa Remaja
Tugas perkembangan
kedua yang harus dikuasai remaja dalam masalah seks adalah belajar memerankan
peran seks yang diakui. Tugas ini lebih sulit bagi banyak remaja, terutama bagi
perempuan dibandingkan dengan penguasaan tugas perkembangan dalam masalah seks
yang pertama, yaitu belajar bergaul dengan lawan jenis.
Menurut Deutsch dan Gilbert, banyak
remaja, sebagai akibat dari pendidikan seperti ini dan adanya tekanan dari
teman-teman sebaya, terlebih dari lawan jenis, ”ditarik ke arah yang
berlawanan, yakni situasi mematangkan konflik”.
Rosen dan Aneshensel menamakan sikap
pura-pura feminin ini sebagai gejala
bunglon (chameleon syndrome), yaitu kemauan untuk memainkan peran demi
untuk menikmati dukungan sosial bagi kedua kelompok seks tersebut dan untuk
menyesuaikan diri dengan pola-pola lingkungan yang diakui, tanpa
mempertimbangkan perasaan-perasaan yang sebenarnya terhadap peran wanita
tradisional. Menurut mereka, sindroma ini berasal dari keluarga suatu hasil
dari proses di mana orang tua memerintahkan anak gadisnya untuk berperilaku dan
bersikap sesuai dengan seksnya.
Efek penggolongan peran-seks pada remaja
mempengaruhi perilaku dan sikap anak laki-laki maupun perempuan meskipun dalam
cara yang berbeda. Dari sekian banyak akibat, ada 4 yang bersifat sangat umum
sehingga hampir bersifat universal dalam kebudayaan Amerika saat ini, yaitu:
1. Perasaan
superioritas maskulin
2. Prasangka
seks (seks bias)
3. Prestasi
rendab
4. Takut
berhasil
F.
Hubungan
Keluarga
Masalah yang lebih penting adalah apa yang
disebut ”kesenjangan generasi” antara remaja dengan orang tua mereka. Kesenjangan
ini sebagian disebabkan karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar
perilaku yang biasanya terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, dan
sebagian disebabkan karena kenyataan bahwa kawula muda sekarang memiliki banyak
kesempatan untuk pendidikan, sosial dan budaya yang lebih besar daripada masa
remaja orang tua mereka. Jadi sesungguhnya ini merupakan ” kesenjangan budaya”,
sepenuhnya bukan karena perbedaan dalam usia kronologis.
Meskipun ada banyak sumber pertentangan
antara remaja dan anggota-anggota keluarga, tetapi ada sebab-sebab tertentu
yang hampir bersifat universal dalam keluarga-keluarga Amerika saat ini.
Sebab-sebab ini lebih banyak terjadi pada masa awal masa remaja dibandingkan
dengan akhir masa remaja dengan anak laki-laki. Sumber-sumber yang paling
serius, yaitu:
1.
Standar perilaku
2.
Metode disiplin
3.
Hubungan dengan saudara kandung
4.
Merasa menjadi korban
5.
Sikap yang sangat kritis
6.
Besarnya keluarga
7.
Perilaku yang kurang matang
8.
Memberontak terhadap sanak keluarga
9.
”Masalah palang pintu”
Hubungan keluarga
yang membaik dengan anggota keluarga lain lambat laun berkurang dan hubungan
menjadi lebih nenyenangkan dan lebih penuh kasih sayang. Hal ini berlaku dalam
hubungan dengan semua anggota keluarga. Hubungan remaja – orang tua yang
membaik bermula ketika orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan
anak kecil lagi.
Perbedaan seks dalam
hubungan keluarga, pada umumnya hunbungan remaja dengan anggota keluarga yang
wanita kurang baik dibandingkan dengan hubungan dengan anggota keluarga yang
pria. Meskipun benar bahwa ibu cenderung lebih lunak terhadap anak
laki-lakinya, namun kini merupakan salah satu perkecualian. Karena anak
perempuan lebih dibatasai oleh ibu dibandingkan dengan ayah, maka pertentangan
antara ibu – anak gadis lebih kuat, setidaknya sampai bagian akhir masa remaja.
G.
Perubahan
Kepribadian
Pada
awal masa remaja, anak laki-laki dan perempuan sudah menyadari sifat-sifat yang
baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat
teman-teman mereka. Remaja yang lebih tua juga menyadari apa yang membentuk
”kepribadian yang menyenangkan”. Ia mengetahui sifat-sifat apa yang dikagumi
oleh teman-teman sejenis maupun teman-teman lawan jenis.
Ini merupakan tugas
sulit dan yang sering kali tidak mingkin. Pertama, pola keribadian yang sudah
dibentuk selama masa kanak-kanak sudah mulai stabil dan cenderung menetap
sepanjang hidupnya dengan hanya sedikit perbaikan. Memang ada
perubahan-perubahan dengan bertambahnya usia tetapi perubahan ini lebih
bersifat kuantitatif, daripada
kualitatif.
Kedua, banyak diantara kondisi yang
membentuk pola kepribadian di luar pengendalian para remaja karena kondisi itu
merupakan hasil dari lingkungan di mana remaja itu hidup dan akan terus
mempengaruhi konsep diri, yaitu inti dari pola kepribadian sepanjang linkungan
tetap stabil.
Banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang
turut membentuk pola kepribadian melalui pengaruhnya pada konsep diri. Beberapa
diantaranya sama dengan kondisi pada
masa kanak-kanak, tetapi banyak yang merupakan akibat dari perubahan-perubahan
fisik psikologis yang terjadi selama masa remaja.
H.
Bahaya Masa Remaja
Bahaya fisik tidak banyak lagi dan
tidak sepenting bahaya psikologis meskipun masih tetap ada. Bahaya fisik
penting terutama karena reaksi-reaksi psikologisnya. Kegemukan misalnya, tidak
banyak mempengaruhi perilaku remaja dan penyesuaian sosial, tetapi hal ini
berbahaya karena dapat mengakibatkan sikap yang kurang baik dari teman-teman
sebaya.
Jenis-jenis bahaya
fisik:
1.
Kematian akibat penyakit, kematian yang disebabkan
kecelakaan
2.
Bunuh diri atau percobaan bunuh diri
3.
Cacat fisik, seperti: gigi yang bengkok,
penglihatan yang kurang baik atau kurangnya pendengaran, jarang menghambat
remaja untuk melakukan apa yang dilakukan teman-teman sebaya
4.
Akibat pertumbuhan otot selama awal masa remaja,
kekuatan meningkat
5.
Kecanggungan dan kekakuan
6.
Bentuk tubuh yang tidak sesuai dengan seksnya
7.
Kesederhanaan
Selain jenis-jenis
bahaya fisik, ada juga jenis-jenis bahaya psikologis, yaitu:
1.
Perilaku sosial
2.
Perilaku seksual
3.
Perilaku moral
4.
Hubungan keluarga
Adapun akibat dari
ketidakmatangan, yaitu remaja yang mengetahui bahwa sikap dan perilakunya
dianggap ”tidak matang” oleh kelompok sosial dan yang menyadari bahwa orang lain
memandangnya tidak mampu menjalankan peran dewasa yang baik, akan mengembangkan
kompleks rendah diri. Meskipun mereka tidak meletakkan standar-standar yang
sangat tinggi bagi dirinya sendiri, akan terdapat kesenjangan antara apa yang
diinginkan dan apa pandangannya tentang dirinya sendiri - seperti tercemin dalam dugaan mengenai
sedikit ketidakpuasan, tetapi kalau kesenjangan ini lebar, maka ia cenderung
menganggap dirinya sendiri tidak berharga dan merenung atau bahkan mencoba
bunuh diri.
Referensi : Bahan Ajar Kuliah Fisikologi Stikes
Widya Husada Semarang
Program Studi DIII Teknik Rontgen Tahun
Angkatan 2009 – 2012
By
Khaerun hidayat 09.1.029


Tidak ada komentar:
Posting Komentar